Forum Studi Islam

Generasi Rabbani, Inklusif, dan Profesional

Featured Coupons

Tafaddal dibaca ya postingan-postingannya.. jangan lupa dikomentari.. semoga bermanfaat^^

Latest Coupons

Jumat, 17 Februari 2017

Adakah Rasulullah SAW Mengizinkan Anak-anak Muda Untuk Berzina?



Adakah Rasulullah SAW Mengizinkan Anak-anak Muda Untuk Berzina?

Saat itu Rasulullah SAW sedang duduk di antara para  sahabatnya ra, seperti sebuah rembulan bercahaya yang dikelilingi oleh bintang-bintang yang berkelap-kelip. Tiba-tiba ada seorang pemuda dari kalangan kaum Muslimin masuk ke majelis Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Dalam dada anak muda ini ada sesuatu yang dia tidak kuasa menyembunyikannya, maka dia ingin mengutarakannya kepada seseorang yang memiliki obat mujarab dan solusi jitu, dan tidak ada yang lebih baik dari Muhammad bin Abdullah Saw, yang diutus oleh Rabbnya (Allah SWT), sebagai rahmat bagi alam semesta. 

Lalu perkara apa yang anak muda ini tidak kuasa memendam dan menyembunyikannya, serta dia ingin mendapat solusi baginya dari Rasulullah SAW?

Anak muda ini berkata kepada Rasulullah SAW,”Wahai Rasulullah SAW, izinkanlah aku berzina.”
Tidak diragukan lagi, permintaan ini bagaikan bom bagi para sahabat. Mana bisa anak muda ini berani meminta izin melakukan perbuatan durhaka ini dan kepada siapa dia meminta? Rasulullah SAW. Sungguh, itu adalah sebuah sikap kurang ajar yang paling rendah. Anak muda ini mendengar suara pedang-pedang keluar dari sarungnya, pedang-pedang tersebut dihunus oleh para sahabat untuk mendidiknya.

Akan tetapi Rasulullah SAW yang diutus sebagai rahmat bagi alam semesta menahan mereka. Beliau bersabda kepada anak muda tersebut,”Mendekatlah kepadaku. Mendekatlah kepadaku!”
Ketika anak muda itu telah berada dekat dengan Rasulullah SAW, beliau menunjukkan wajah cerah dan ceria, beliau tersenyum kepadanya. Betapa besar kesantunanmu wahai Rasul pembawa hidayah dan rahmat.
Setelah anak muda ini mulai tenang, Rasulullah SAW bertanya kepadanya,”Apakah kamu ridha bila perbuatan itu terjadi pada ibumu?” Anak muda itu menjawab,”Tidak.” Rasulullah SAW bersabda,”Demikian juga orang-orang, tidak ridha bila itu terjadi pada bibi-bibi mereka.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad, no.22211 dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, no.370. Ed. T).

Allahu Akbar! Sebuah perkataan yang menyentuh perasaan dan logika sebelum ia menyentuh pendengaran. Perkataan dari seseorang yang Rabbnya (Allah SWT) telah berfirman tentangnya,
Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (Al-Qalam:4).
Tentang beliau, penyair beliau, Hasan bin Tsabit berkata,
Kedua mataku tidak pernah melihat yang lebih baik darimu
Tidak ada wanita yang melahirkan seseorang yang lebih bagus darimu
Engkau diciptakan bersih dari segala cacat
Seolah-olah engkau tercipta sesuai dengan kehendakmu
Sesudah perbincangan yang sarat dengan cahaya iman ini, Rasulullah SAW mengusap dada anak muda ini dan mendoakannya.

Anak muda ini berkata,”Aku pergi, dan tidak ada sesuatu pun yang paling aku benci daripada zina.” 

Sumber: al-Ajmi, M. A. (2016). Kisah-Kisah Teladan. Jakarta: DARUL HAQ

Rabu, 25 Januari 2017



Bismillah

Kisah Teladan 1 :
 Muhammad al-Miski
Dia Memelihara Kehormatan Diri, Maka Allah pun Memberinya Karomah

Di salah satu wilayah kota Damaskus, terjadilah peristiwa ini yang “pemeran utama”nya Allah beri sebuah karomah yang menjadi kebanggaan bagi dirinya, sebagai balasan atas kebersihan hati dan kesucian jiwanya. Kisahnya sebagai berikut:

Di Damaskus ada seorang penjual kipas yang miskin, dia biasa menelusuri jalan-jalan kota Damaskus seraya berseru dengan suara yang lantang, “Kipas, kipas.”

Suatu hari, dia mendengar ada sebuah suara memanggilnya. Anak muda yang bernama Muhammad ini menoleh, ternyata suara itu berasal dari balik pintu sebuah rumah yang tidak jauh darinya. Muhammad mendekat ke arah suara itu, dia mendengar suara wanita yang lembut yang memintanya masuk dan memperlihatkan kipas yang dijualnya.

Muhammad masuk, dan gadis pemilik suara itu menutup pintu. Muhammad mulai menawarkan kipas-kipasnya kepada gadis itu satu demi satu, namun gadis itu menolak semuanya, mata gadis itu tertuju kepada Muhammad, bukan kepada kipas. Mengetahui hal itu, Muhammad mulai curiga kepada maksud gadis tersebut, maka dia beranjak hendak keluar, tetapi apa daya, ternyata gadis itu telah menutup pintu rumah dan menguncinya. Gadis itu memandang Muhammad dengan pandangan nafsu dan berharap, sementara Muhammad ingin keluar, namun gadis tersebut mencegahnya dan mengancamnya, “Bila kamu tetap ingin keluar, maka aku akan berteriak sekuat tenaga, hingga orang-orang akan datang dan aku akan berkata kepada mereka,’Anak muda ini masuk ke rumahku, dia hendak menodai kehormatanku’, dan penduduk sekitar pasti akan mempercayaiku.”

Muhammad menarik nafas panjang. Muhammad sadar bahwa dia telah terjebak dalam sebuah masalah besar. Gadis itu mendekat kepada Muhammad, hingga dia berusaha memeluknya. Muhammad kaget, dia menghindar dengan cepat darinya. Dia menghardik gadis itu dengan keras, dia berkata,”Takutlah kamu kepada Allah. Apa yang kamu lakukan?” Gadis itu berulang-ulang mengatakan,”Orang-orang pasti akan mempercayaiku manakala mereka datang kesini, dan melihatmu ada di dalam rumahku. Lebih baik kamu ikuti saja apa yang aku perintahkan kepadamu.”

Pemuda ini sadar, bahwa ketegasan ternyata tidak berguna, sia-sia saja, maka dia mulai mengingatkan si gadis kepada Allah, mengajaknya untuk takut kepada Allah. Muhammad membacakan beberapa ayat kepadanya dengan harapan dia akan sadar dan insaf. Muhammad membacakan Firman Allah:

Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata,’Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal yang kecil dan yang besar, melainkan tercatat semuanya’.” (Al-Kahfi: 49)

Muhammad membacakan kepadanya ayat-ayat lain untuk menyadarkan dan mengingatkannya, namun cara lunak ini bernasib sama dengan cara tegas sebelumnya, tidak berarti.

Gadis tersebut berkata,”Rumah ini kosong, tidak ada siapapun selain aku dan kamu tak ada seorang  pun yang tahu. Lupakanlah kata-katamu itu. Marilah kita nikmati waktu kita ini…”

Pemuda ini bingung, apa yang harus dilakukannya? Dia adalah anak muda yang takut kepada Allah dan selalu merasa diawasi Allah. Dia takut terhadap azab dan hukumanNya, tidak ingin berbuat keji, akan tetapi gadis ini mengajak dan memaksanya.

Muhammad berpikir keras, dia tidak menemukan jalan keluar dari masalah ini kecuali melalui jalan taktik dan tipu daya. Gadis itu terus mengeluarkan kata-kata manis dan indah, dia berkata,”Sudah lama aku mencintaimu, Aku sangat mengimpikan situasi yang menyatukan kita berdua. Tetapi mengapa kamu malah menyia-nyiakan kesempatan ini?”

Ketika Muhammad melihat kengototan gadis itu, maka dia terpaksa membuat sebuah siasat, semoga Allah menyelamatkannya dari keburukan dan kebusukan si gadis. Muhammad mulai berpura-pura menerima ajakan gadis tersebut, tidak hanya itu, dia menunjukkan wajah bahagia atas ajakannya, akan tetapi awalnya dia maju mundur, menolak hingga dia yakin terhadap keinginan gadis dan hasratnya. Gadis itupun serasa terbang karena suka cita mendengar omongan tersebut, dia bergegas menyambar wewangian dan mengoleskannya ke dadanya, aroma harum pun menyebar ke penjuru ruangan.

Pemuda ini mengatakan bahwa dia ingin buang hajat dulu. Dia pun masuk kamar kecil dan gadis itu pergi untuk bersolek dan berhias. Di kamar kecil, Muhammad sama sekali tidak hendak buang hajat, dia masuk hanya untuk mendapatkan waktu memikirkan jalan keluar dari kubangan dosa yang kakinya membawanya kepadanya, sebuah musibah yang hanya Allah semata yang memudahkannya darinya kemudian semua siasat cerdik, sekalipun harus dibayar mahal.
Muhammad melihat, ternyata tempat buang air ada di bawah kedua kakinya, dia membukanya, baunya yang busuk keluar darinya, dan isinya sangat menjijikkan, sebuah pemandangan yang semua orang merasa jijik terhadapnya.

Dengan hati yang mantap dan teguh, Muhammad memasukkan kedua tangannya ke dalam tempat buang air, mengambil kotoran dan najis yang ada di dalamnya, dan melumurkannya ke pakaian dan sekujur tubuhnya, dengan harapan agar gadis tersebut akan mengusirnya setelah melihat dirinya berlepotan dengan kotoran yang najis.

Muhammad keluar dari kamar kecil, sementara sang gadis masih sibuk berdandan, dan memakai wewangian menunggu dengan penuh kerinduan dan kemesuman, namun saat matanya melihat pemandangan itu, dia kaget dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, maka dia berteriak,”Dasar gila, Dasar gila! Keluar, keluar!”

Pembaca yang budiman, apakah menurut Anda, Muhammad mengharapkan selain itu? Muhammad berbahagia bukan kepalang. Si gadis membuka pintu, Muhammad keluar berlari dengan sekuat tenaga dan sekencang-kencangnya, dia berlari melewati pasar, sementara orang-orang memandangnya. Gadis itu tidak ragu bahwa pemuda itu gila. Tak ada yang mengenalinya. Anak-anak membuntutinya dan melemparinya dengan batu seraya meneriakinya,”Orang gila! Orang dungu!
Muhammad terus berlari hingga dia sampai dirumahnya. Dia menutup pintu rapat-rapat. Dia tidak percaya bisa selamat dari musibah besar yang dia hampir terjerumus ke dalamnya. Dia mulai melepas semua pakaiannya yang penuh dengan najis, masuk ke kamar mandi dan mandi berkali-kali hingga badannya pun bersih, lalu dia mengoleskan minyak wangi ke tubuhnya guna menghilangkan bau busuk kotoran tadi.

Hari-hari berlalu dari kejadian tersebut, sementara setiap kali Muhammad melewati perkumpulan orang-orang, mereka mencium bau harum keluar dari tubuhnya. Bulan-bulan berjalan, sementara bau harum masih keluar darinya, hingga orang-orang menamakannya Muhammad al-Miski, yang akhirnya nama al-Miski mengalahkan julukan aslinya.

Semoga Allah merahmati anak muda, Muhammad al-Miski, yang takut kepada azab Allah sehingga menahan diri dari perbuatan keji. Teladannya dalam hal ini adalah Nabi Yusuf AS, ikon kesucian dan memelihara kehormatan diri dan kebersihan hati. Aamiin dan Aamiin.

(Silsilah Qashash min at—Tarikh, Muhammad Hasan al-Himshi, Shira’ baina al-Fadhilah wa ar-Radhilah)

Sumber: al-Ajmi, M. A. (2016). Kisah-Kisah Teladan. Jakarta: DARUL HAQ

 #KISAHTELADAN
#FSI2016-2017
#FSIPSIKOLOGIUNM

Rabu, 18 Januari 2017

Bismillah
Assalamu'alaikum sahabat fillah,

Tidak terasa yaa, kegiatan peminatan BKM Forum Studi Islam sebentar lagi akan dilaksankan,

Mari Hadiri Pembukaan BINA AKRAB di BM 101 F.Psi UNM Pada hari Kamis, 19 Januari 2017 dan Acara Inti pada hari Jum'at-Minggu, 20-22 Januari di BM 101 F.Psi UNM.

Ayo..Ayo..
Jangan Sampai Ketinggalan..

BINA AKRAB: "Kita ini Muslim, Masihkah Kita Peduli?"

#BinaAkrab
#Dept.Pembinaan
#FSI2016-2017
video

Jumat, 13 Januari 2017

Bismillah

Assalamu'alaikum Sahabat Fillah

Ada Info Nih Bagi kalian Pecinta Ilmu dan tentunya yang ingin mengenal Forum Studi Islam lebih dekat...

Ingin tahu berbagai kegiatan Forum Studi Islam secara lebih mendalam ? Atau kalian ingin gabung dalam organisasi kece dengan nuansa Islam yang satu ini?

Ini kesempatan bagi kalian.

Jadi Pada waktu itu, kalian akan bekenalan dengan salah satu kegiatan kece dari Forum Studi Islam yang bernama "BINA AKRAB"

Kapan?
Pembukaan: Kamis, 19 Januari 2017
Acara Inti akan dilaksanakan Pada Hari/Tanggal: Jum'at-Minggu/20-22 Januari 2017

Apa Itu BINA AKRAB?
BINA AKRAB merupakan salah satu program kerja dari Departemen Pembinaan BKM Forum Studi Islam Periode 2016-2017 yang bertujuan sebagai pengaderan/pendidikan peminatan BKM Forum Studi Islam (FSI) dan kalian akan lebih mengenal kegiatan-kegiatan organisasi FSI secara lebih mendalam.

Tema Bina Akrab Kali yaitu "Kita ini Muslim, Masihkah Kita Peduli?"
Jadi, bagi yang ingin mendaftarkan diri sebagai peserta Bina Akrab, yuk ke sekret FSI dan dapatkan Formulir Pendaftarannya, Pendaftaran sudah dibuka ya sahabat sekalian, dan untuk Batas Pendaftaran peserta berlaku sampai hari Rabu, 17 Januari 2017

Ayo... Daftarkan diri kalian dan jangan sampai ketinggalan !!!




#KitaIniIslam,MasihkahKitaPeduli?
#BinaAkrab
#PanitiaBinaAkrab
#FSI2016-2017

Selasa, 10 Januari 2017

Bismillah
 
Assalamu'alaikum
 
Hasil kajian Ngobrol Psikologi Islam (NgoPI) dengan tema: 
 
RUH, JIWA DAN TAHAPAN PERUBAHAN PERILAKU DALAM ISLAM

Oleh: Temmy Andreas Habibie S.Psi

1. Pengertian Ruh, Jiwa Dan Hati

     Berbicara tentang jiwa dan metode membersihkannya di dalam islam, akan banyak kita temui kitab-kitab dari para ulama yang menjelaskannya. Sebab para ulama tidak hanya memperhatikan ibadah dari sisi jasad saja, akan tetapi juga menerangkan bagaimana dinamika dan pengaruh ibadah batin terhadap jasad seorang muslim. Diantara ulama yang menerangkan hati dalam sejarah-sejarah islam ialah, Al-Muhasibi, Al-Ghozaly, Ibnul Jauzi, Ibnu Qudamah al-Maqdisi dan Ibnul Qoyyim al-Jauziyah rahimahumullahu ajma’in. Para ulama melakukan beberapa metode dalam mengkaji Nafs, sebagiannya mengkaji hati dengan mengkolaborasikan antara Nash dengan filsafat; sebagaimana yang dilakukan oleh Al-Ghozali, dan Ibnu Sina. Adapun sebagiannya yang lain menjelaskan hati dan permasalahannya dengan menggunakan Nash, Ijma’, dan Qiyash yang shohih; sebagaiamana yang dilakukan oleh Ibnul Jauzi, Ibnu Qudamah dan Ibnul Qoyyim rahimahumullahu ajma’in. Dalam penjelasan ruh dan nafs, penulis lebih condong untuk mengambil inti sari dari uraian para ulama yang menjelaskan nafs berdasarkan nash, ijma’ dan qiyash yang shohih serta tidak bercampur dengan filsafat ataupun qiyash ma’al fariq.

وَيَسۡ‍َٔلُونَكَ عَنِ ٱلرُّوحِۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنۡ أَمۡرِ رَبِّي وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلۡعِلۡمِ إِلَّا قَلِيلٗا ٨٥

Artinya: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, Ruh adalah urusan tuhanku, kamu tidak diberikan ilmu kecuali sedikit. 
 
     Ibnul Qoyiim rahimahullah menjelaskan bahwa Nafs disifatkan kepada tiga pengertian. Pertama Nafs dalam artian jiwa, kedua sebagai darah, dan yang ketiga adalah Badan/jasad. Para ulama membedakan antara ruh dan nafs. Ruh adalah sesuatu yang Allah ciptakan dari diriNya sendiri yang ditiupkan oleh Allah kepada jasad manusia pada usia 4 bulan di dalam kandungan ibunya. Sebagaimana badan membutuhkan makanan, maka ruh pun membutuhkan makanan untuk “kekuatan” dirinya. Adapun makanan dari ruh ialah ilmu dan amal yang baik. Jika ruh terjaga diberi “makan” dengan baik, maka ruh akan mampu menghadirkan kualitas spiritual yang tinggi, sehingga dalam keadaan jasad yang tidak diberi makan sekalipun ruh bisa menghadirkan kebahagiaan yang kuat di dalam jiwa manusia. Sedangkan Nafs atau jiwa ialah bercampurnya antara ruh dengan jasad manusia sebagaimana yang diungkapkan oleh as-Suhaili rahimahullah dalam tafsir ibnu Katsir surah Al-Isra: 85. As- Suhaili rahimahullah menjelaskan bahwa perumpamaan – dinamakan jiwa karena menyatunya antara ruh dan jasad – ini seperti air yang berada di dalam buah anggur, lalu diperas maka air yang dihasilkan darinya dinamakan minuman perasan anggur atau dapat pula dijadikan sebagai khamr. Dalam keadaan seperti itu ia tidak dapat dikatakan sebagai air, melainkan dalam ungkapan kiasan. Al-Hafiz Ibnu Mandah juga menjelaskan dalam kitabnya yang berjudul Sami’nahu fii ar-ruhi, “Disaat ruh ditiupkan oleh Allah dalam diri manusia, maka ruh bercampur dengan jasad sehingga disebutlah jiwa. Maka disebabkan pencampuran itulah manusia mulai diilhamkan oleh Allah potensi taqwa dan potensi fajir di dalam hatinya”. Sebagaimana dalam surah Asy-Syamsi: 8

فَأَلۡهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقۡوَىٰهَا ٨

Artinya: “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa jalan kefasikan dan ketaqwaan”
 
Oleh sebab itu, banyak para ulama yang menjelaskan bahwa metode tazkiyatun nafs atau pembersihan jiwa diperlukan pembersihan jasad atau tubuh dari perkara-perkara yang haram atau kemaksiatan bukan hanya sekedar membersihkan jiwa dari penyakit hati. Sebagaimana dalam firman Allah surat Asy-Syamsi: 9-10 yaitu

قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا ٩ وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا ١٠

“Artinya: Sungguh beruntung orang yang membersihkan jiwanya, dan merugilah orang yang mengotorinya”
 
     Beberapa ulama pun berpendapat bahwa manusia memiliki tiga jiwa yaitu: Nafs Muthmainnah (Jiwa yang tenang), Nafs Lawwamah (Jiwa yang gelisah), dan Nafs Ammarah (Jiwa yang penuh angkara murka). Bahkan Ibnul Qoyyim membagi menjadi tiga dengan istilah yang berbeda yaitu, Nafs Muthmainnah, nafs sab’iyah ghadabiyah (jiwa angkara murka) dan nafs hayawaniyah syawahaniyah (Jiwa kebinatangan yang dipenuhi syahwat). Makna dari ketiga jiwa ini adalah niat, iradah dan perilaku menggambarkan sifat-sifatnya. Sehingga manusia perlu menjaga jiwanya dengan melakukan metode tazkiyatun nafs sebagaimana yang telah disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

     Adapun hati adalah tempat dimana sumber fatwa/keputusan jiwa untuk berniat, beriradah, dan bertindak. Ibnul Qoyyim menjelaskan dalam buku 10 kekasih Allah bahwa hati adalah wadah atau tempat pengaruh, mempengaruhi dalam kaitan dengan khusyu – khusyu adalah makna yang disarikan dari sikap hormat, cinta, rendah hati, dan kepasrahan –. Sehingga jenis hati yang dimiliki manusia akan mempengaruhi kualitas khusyu’ dalam ibadah manusia. Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah berpendapat bahwa hati adalah tempat tersimpan ilmu, sehingga bersihnya hati akan menguatkan daya ingat dan pemahaman seseorang terhadap sesuatunya. Selanjutnya Ibnul Qoyyim rahimahullah mengungkapkan bahwa hati terbagi menjadi 3 jenis; Hati yang selamat/sehat, hati yang sakit, dan hati yang mati. Sebagaimana dalam firman Allah sebagai berikut: Dalil Hati yang selamat/sehat

يَوۡمَ لَا يَنفَعُ مَالٞ وَلَا بَنُونَ ٨٨ إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ ٨٩

Artinya: “(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna. Kecuali orang- orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. (Asy-Syu’ara: 88-89)

     Hati yang sehat ditandai dengan kekhusyu’an hati dalam beribadah, mendengarkan kebenaran serta tunduk terhadapnya, selalu kembali bertaubat tatkala melakukan kesalahan, ketenangan dan kewibawaan dalam ucap dan perilaku, terlepasnya dari iri dan dengki.

Dalil Hati yang sakit

فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ فَزَادَهُمُ ٱللَّهُ مَرَضٗاۖ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمُۢ بِمَا كَانُواْ يَكۡذِبُونَ ١٠

Artinya: “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta” (Al-Baqarah: 10) Adapun tanda-tanda hati yang sakit ialah mengalami kesulitan dalam merealisasikan tujuan penciptaan dirinya –mengenali Allah, mencintai-Nya, rindu untuk bertemu dengan-Nya – mendahulukan syahwatnya daripada tunduk kepada syari’at Allah, sebagaimana dalam surah al-Furqan: 43, yang artinya “terangkanlah kepadaku tentang orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?”. Para ulama tafsir menjelaskan Orang yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah dia yang senantiasa menunggangi hawa nafsunya, sehingga kehidupan yang dijalaninya di dunia ini layaknya kehidupan binatang ternak, tidak mengenal Rabb-nya ‘azza wa jalla, tidak beribadah kepada-Nya dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Dalil hati yang mati

أَفَلَمۡ يَسِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَتَكُونَ لَهُمۡ قُلُوبٞ يَعۡقِلُونَ بِهَآ أَوۡ ءَاذَانٞ يَسۡمَعُونَ بِهَاۖ فَإِنَّهَا

لَا تَعۡمَى ٱلۡأَبۡصَٰرُ وَلَٰكِن تَعۡمَى ٱلۡقُلُوبُ ٱلَّتِي فِي ٱلصُّدُورِ ٤٦

Artinya: “maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada” (Surah Al-Hajj: 46)

Tanda-tanda hati yang mati ialah hati yang tidak mengenal Allah, tidak menyembah-Nya dengan menjalankan perintah sesuai yang Ia cintai dan ridhai. Bahkan hati yang mati menjadikan kebodohan dan syahwatnya sebagai dasar dia melakukan sesuatu. Orang-orang yang memiliki jenis hati ini adalah orang yang mengutamakan kesenangan yang tidak mendatangkan kebahagiaan di jiwanya.

Dalam pandangan islam hati bisa dibersihkan dan terkotori oleh sesuatu, sebagaimana dalam firman hadits nabi sallalahu alaihi wasallam:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ

سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ (

كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ) »

Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.” (H.r. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Ahmad).

     Mujahid rahimahullah mengatakan, “Hati itu seperti telapak tangan. Awalnya ia dalam keadaan terbuka dan jika berbuat dosa, maka telapak tangan tersebut akan tergenggam. Jika berbuat dosa, maka jari-jemari perlahan-lahan akan menutup telapak tangan tersebut. Jika ia berbuat dosa lagi, maka jari lainnya akan menutup telapak tangan tadi. Akhirnya seluruh telapak tangan tadi tertutupi oleh jari-jemari.” (Fathul Qadir: Asy-Syaukani, Mawqi’ at-Tafsir, 7/442)

     Ibnul Qoyyim juga menjelaskan dalam Miftah Darus Sa’adah bahwa manusia secara umum memiliki dua kemampuan dibandingkan makhluk yang lain; pertama, kemampuan mengetahui dan mengenalisa serta segala sesuatu yang menjadi konsekuensi dari keduanya, berupa ilmu pengetahuan dan kemampuan berbicara. Kedua, kekuatan berkehendak dan cinta, serta segala hal yang mengikutinya berupa niat, tekad dan perbuatan. Godaan dari kedua kemampuan ini ialah syubhat dan syahwat. Dimana syubhat/keraguan melemahkan kekuatan analisa ilmiah individu dan syahwat melemahkan kemampuan kehendak untuk beribadah. Ketika manusia mengalami dua godaan tersebut, maka kondisi nafs manusia berubah menjadi nafs sab’iyah ghadabiyah (jiwa angkara murka) dan nafs hayawaniyah syawahaniyah (Jiwa kebinatangan yang dipenuhi syahwat). Disinilah manusia melakukan kerusakan baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain dan lingkungan. Berbeda dengan Rasul khususnya Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam, dimana Allah membersihkan dirinya dari dua godaan ini, sebagaimana dijelaskan dalam surah an-najm: 2-3.

مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمۡ وَمَا غَوَىٰ ٢ وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلۡهَوَىٰٓ ٣

Artinya: “Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.” (An-Najm:2- 3). Tidak tersesatnya nabi dengan syubhat, menunjukkan kesempurnaan ilmu dan pengetahuan Beliau Sallallahu alaihi wasallam dan tidak mengikuti kemauan hawa nafsu (syahwat) merupakan kesempurnaan akhlak beliau sallallahu alaihi wasallam. Sehingga dengan demikian nabi Muhammad adalah hamba yang sempurna ilmu dan sehingga dirinya terjauhkan dari gangguan-gangguan psikis.

2. Tahapan Perubahan Perilaku Manusia

     Islam memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki iradah, niat, dan perilaku yang unik. Selain itu perilaku manusia juga mudah dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Sebagaimana sabda Nabi sallallahu alaihi wasallam, “agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya” (H.R. Abu Daud dan At-Tirmidzi). Islam pun mengatur hak dan kewajiban manusia berdasarkan peran dan fungsi gender, sehingga tercipta rasa keadilan dan ketentraman dalam bermasyarakat. Islam pun memandang bahwa manusia bisa merubah perilakunya dengan konsep taubat dan beramal sholeh. Maka dibawah ini penulis mencoba untuk mengkolaborasikan antara konsep taubat dan tahap-tahap perubahan perilaku berdasarkan teori psikologi modern. 
     Teori yang efektif dalam menjelaskan perubahan perilaku secara internal ialah teori yang dikemukakan oleh Prochasca dan Diclemente (1983). Teori ini disebut dengan Transtheoretical Model, dimana secara umum teori ini bisa diterapkan dalam jenis perilaku yang variatif, populasi yang luas, dan setting yang berbeda-beda. Kelebihan dari Transtheoretical model ialah; menggunakan tahap-tahap perubahan yang dapat diintegrasikan dengan konseling, teori ini didasarkan pada penelitian selama 35 tahun, dan digunakan oleh banyak profesional di dunia. Studi menunjukkan bahwa perubahan yang terjadi pada individu memiliki tahap- tahapnya. Seseorang bisa saja bergerak dari satu tahap ke tahap yang berikutnya, atau bahkan bertahan dalam tahap tersebut sepanjang tidak ada intervensi atau tidak berminatnya individu pindah ke tahap selanjutnya. Diantara yang mempegaruhi individu untuk pindah ke tahapan berikutnya adalah keputusan yang seimbang dan self-effcacy. Adapun tahapan perubahan perilaku tersebut ialah, Prekontemplasi adalah tahapan dimana orang lain menyadari ada masalah dalam perilaku individu, namun individu tidak menyadari bahwa perilakunya tersebut menimbulkan masalah, dan individu tidak ingin melakukan perubahan perilaku dalam dirinya. Kontemplasi adalah tahapan dimana terjadi ambivalensi di dalam diri individu; antara keinginan untuk merubah perilakunya atau tetap mempertahankannya. Sementara action adalah tahapan dimana ketika terlihat perubahan dalam perilaku individu dan lingkungannya atau gaya hidupnya, bahkan kemungkinan indvidu Pre Kontemplasi, Kontemplasi, Action Maintenance of change, Relapse, Exit menyampaikan kepada orang lain perihal keputusan barunya untuk berubah. Maintenance adalah tahapan yang ditandai dengan adanya konsolidasi komitmen dengan indvidu untuk mempertahankan perubahan yang telah dicapai dalam tahapan sebelumnya. Adapun relapse adalah indvidu melakukan kembali perilaku lamanya yang bermasalah setelah melalui proses perubahan perilaku. Jika indvidu berhasil mempertahankan komitmen atas perubahannya, maka indvidu berkemungkinan besar untuk keluar dari lingkaran tahapan tersebut dan perilaku baru tersebut menetap dalam diri indvidu. (Leiper & Kent, 2001).

     Dalam islam konsep taubat mengikuti tahapan perubahan perilaku diatas. Sebagaimana yang diketahui bersama bahwa syarat taubat adalah; mengakui kesalahan dan bertekad untuk meninggalkan perilaku buruknya, serta memperbanyak amal shaleh. Dalam tahapan perubahan perilaku menurut transtheorical method, Seseorang yang masih menikmati perilaku maksiat dan belum menyadari konsekuensi dari perilaku tersebut pada dirinya adalah ciri bahwa individu tersebut masih berada dalam tahap prekontemplasi, sehingga dalam tahap ini nasihat, ceramah bahkan saran yang membangun pun tidak akan ditanggapi oleh individu. jika seseorang mulai menyadari bahwa perilaku tersebutnya keliru atau berdosa di sisi Allah, maka dirinya mulai melakukan penilaian atas perilakunya tersebut. Semakin dirinya menilai bahwa perilaku tersebut merugikan untuk dirinya sendiri, maka semakin individu tersebut bergerak menuju ke fase/tahap berikutnya yaitu action. Pada fase ini individu mulai memperbanyak melakukan aktivitas positif atau amal shaleh dan belajar meninggalkan amal-amal buruknya sebagai syarat dari diterimanya taubat di sisi Allah. Semakin banyak dan berkualitas amal yang dilakukannya maka akan berkonsekuensi pada jiwa yang bersangkutan, dimana kebahagiaan, niat, iradah dan perilaku positif akan menjadi pilihan utama dari yang bersangkutan dalam berinteraksi. Proses selanjutnya ialah maintenance, atau tahap dimana individu berupaya istiqomah untuk mempertahankan amal-amal sholeh yang dapat membersihkan hatinya, dan pada tahapan ini hawa nafsu serta bisikan syaithan dapat mempengaruhi individu untuk mengulangi perilaku buruknya tersebut. Apabila individu menuruti dorongan hawa nafsu dan bisikan syaithan tersebut maka terjadilah relapse, atau individu melakukan kembali perbuatan buruknya dan terjebak didalamnya.

Referensi:

Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah. 2010. Ruh lil ibnil qoyyim; terjemahan Kathur Suhardi. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah. 2000. Kunci gerbang kebahagiaan; terjemahan kathur suhardi. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

Leiper, R., & Kent, R. 2001. Working Through Setbacks in Psychotherapy. London: Sage Publication, Ltd.

Muslim, M.N.I. 2012. Tanda hati yang sakit (online). (http://muslim.or.id/8082-tanda- hati- yang-sakit.html, diakses tanggal 19 November 2016).

Tafsir Ibnu Katsir.

MET sebagai briefing terapi untuk membantu pemulihan dari perilaku maladaptif menuju perilaku adaptif

     Islam menjelaskan bahwa manusia selama hidup akan ditempa dan diuji dengan berbagai cobaan untuk membuktikan kejujuran imannya. Ujian yang diberikan kepada manusia berupa ujian syahwat dan ujian syubhat. Manusia yang terbaik adalah manusia yang mampu menjaga kualitas amal baiknya ditengah-tengah terpaan godaan tersebut. Allah berfirman dalam al-quran

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ ٢

Artinya “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi” (Al-Ankabuut: 2)

ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡغَفُورُ ٢

Artinya “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (Al-Mulk: 2).

     Dalam Surah al-Ankabuut ayat 2 tersebut, Allah memulai kalimat-Nya dengan “Istifham” atau kata tanya yang menunjukkan makna sanggahan. Makna yang dimaksud adalah bahwa Allah pasti akan menguji hamba-hambaNya yang beriman sesuai dengan kadar iman masing-masing, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits sahih; “Manusia yang paling berat cobaannya ialah para nabi, kemudian orang-orang shaleh, lalu orang yang terkemuka. Seseorang akan diuji sesuai dengan kadar agamanya; jika agamanya kuat maka ujiannya  diperberat pula.

Wallahu a'lam.
 
Semoga Bermanfaat.

Wassalamu'alaikum.
Bismillah

Assalamu'alaikum

Berikut hasil kajian Ngobrol Psikologi Islam (NGOPI) dengan tema:

"Pertolongan Pertama pada Stres ala Psikologi Islam"

     Stres merupakan respon-respon adaptif individu terhadap situasi yang dipersepsikan sebagai sebuah ancaman. Sebagian dari pengalaman hidup, stres merupakan hal yang rumit dan kompleks. Biasanya jika berpikir tetang kejadian yang menimbulkan stres dianggap sebagai kejadian yang negatife seperti sakit, kematian orang yang dicintai, dapat juga kejadian yang positif.

Faktor Penyebab Stres

     Stressor berasal dari berbagai sumber, baik dari kondisi fisik, psikologis, kehidupan sosial maupun pada situasi kerja. berikut beberapa tipe kejadian yang dapat menyebabkan stres (Menurut Lazarus & Cohen dalam Nasution, 2011) yaitu:
a. Daily hassles yaitu kejadian kecil yang terjadi berulang-ulang setiap hari seperti masalah kerja di kantor, sekolah dan sebagainya.
b. Personal stressor yaitu ancaman atau gangguan yang lebih kuat atau kehilangan besar terhadap sesuatu yang terjadi pada level individual seperti kehilangan orang yang dicintai, kehilangan pekerjaan, masalah keuangan dan masalah pribadi lainnya. Selain itu, Menurut Freese Gibson dalam Nasution 2011, menjelaskan bahwa usia juga merupakan faktor penting terjadinya stress.

Syofia, 2009 menjelaskan bahwa Sumber-sumber stres dapat digolongkan dalam bentuk-bentuk:

1) Krisis 
     Perubahan atau peristiwa yang timbul mendadak dan menggoncangkan keseimbangan seseorang diluar jangkauan penyesuaian sehari-hari dapat merangsang stresor. Misalnya krisis dibidang usaha, hubungan keluarga dan sebagainya.

2) Frustasi
     Kegagalan dalam usaha pemuasan kebutuhan-kebutuhan atau dorongan naluri, sehingga timbul kekecewaan. Frustasi timbul bila niat atau usaha seseorang terhalang oleh rintangan-rintangan yang menghambat kemajuan suatu cita-cita baik yang berasal dari dalam diri sendiri atau dari luar.

3) Konflik
     Pertentangan antara dua keinginan atau dorongan yaitu antara kekuatan dorongan naluri dan kekuatan yang mengendalikan dorongan-dorongan naluri tersebut.

4) Tekanan
     Stres dapat ditimbulkan oleh tekanan yang berhubungan dengan tanggung jawab yang besar yang harus ditanggung seseorang.

     Faktor lain penyebab stres adalah masalah. Masalah ketika kita menyikapi sesuatu dengan meganggapya seperti beban. Berapa lama suatu beban akan kita bawa, apakah sehari, seminggu, sebulan, atau bahkan setahun. Itu adalah pilihan kita. Semakin lama beban tersebut kita bawa, semakin lama masalah tersebut akan terselesaikan. Masalah dapat dianggap sebagai ancaman, tantangan, atau bahkan peluang. Tergantung kacamata apa yang dipakai oleh seseorang tersebut.

Pertolongan pertama pada stres dalam Psikologi Islam :

1. Diamkan, dan menenangkan diri
     Dengan stres, seseorang bisa jadi mengalami emosi marah, karena banyakya beban pikiran yang dialami. Oleh karena itu satu cara jika seseorang sedang mengalami stres adalah diam, atau mencari tempat untuk dapat menenangkan diri dan menjernihkan pikiran.
Jika engkau marah, diamlah (H.R al-Bukhari dalam Adabul Mufrad, dishahihkan Syaikh al-Albany)

2. Tarik nafas dalam-dalam, sambil beristigfar dan ta’awudz.
     Setelah pikiran muai tenang, beristigfarlah sebanyak-banyaknya kemudian membaca ta’awudz agar terhindar dari godaan syaitan yang sealalu mencoba untuk mengotori pikiran kita.

3. Merubah posisi dari berdiri, duduk, kemudian baring.
     Karena stres akan berdampak ke amarah. Disunnahkan oleh Rasulullah, jika sedang marah maka ubahlah posisi kita.“Maka apabila salah seorang di antara kamu marah dalam keadaan berdiri maka duduklah. Apabila dalam keadaan duduk maka berbaringlah. ” (Riwayat Abu Daud).

4. Berwudhu
     Salah satu cara untu menurunkan tingkat stres adalah dengan cara berwudhu. Dengan berwudhu perasaan akan lebih tenang dengan air yang membasahi wajah dan bagian tubuh lainnya kemudian meresap kedalam kulit. “Sesungguhnya marah itu dari setan dan setan terbuat dari api. Dan api itu hanya bisa dipadamkan oleh air. Oleh karena itu, jika seorang di antara kamu marah maka berwudhulah. ” (Riwayat Abu Daud).
     Satu peneliti dari Universitas Alexandria, dr. Musthafa yang sekaligus menjabat sebagai Dekan Fakutas THT yang menyatakan bahwa “ jumlah kuman pada orag berwudhu lebih sedikit dibandingkan orang yang tidak berwudhu.

5. Shalat
     “ Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penologmu.

6. Puasa

7. Berdo’a dzikir atau membaca Al-Qur’an
     Dan katakanlah : Ya Tuhanku, Ak berlindung kepada Engkau dari bisika-bisikan syaitan, dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku dari kedatangan mereka kepadaku.

Referensi :

Nasution, Hilmayani. (2011). Gambaran coping stress pada wanita madya dalam menghadapi pramenopause. (Skripsi). Sumatera : Universitas Sumatera Utara

Syofia, Erni. (2009). Faktor-Faktor yang menyebabkan stres pada mahasiswa fakultas keperawatan USU yang sedang menyelesaikan Skripsi. (Skripsi). Sumatera: Universitas Sumatera Utara

Editor : Departemen Penelitian & Pengembangan Psikologi Islam
Bismillah

Assalamualaikum Sahabat Fillah

Berikut Hasil Kajian Ngobrol Psikologi Islam (NGOPI) dengan tema:

FAKTOR PENYEBAB STRESS

     Stressor berasal dari berbagai sumber, baik dari kondisi fisik, psikologis, kehidupan sosial maupun pada situasi kerja. berikut beberapa tipe kejadian yang dapat menyebabkan stres (Menurut Lazarus & Cohen dalam Nasution, 2011) yaitu:
a. Daily hassles yaitu kejadian kecil yang terjadi berulang-ulang setiap hari seperti masalah kerja di kantor, sekolah dan sebagainya.
b. Personal stressor yaitu ancaman atau gangguan yang lebih kuat atau kehilangan besar terhadap sesuatu yang terjadi pada level individual seperti kehilangan orang yang dicintai, kehilangan pekerjaan, masalah keuangan dan masalah pribadi lainnya. Selain itu, Menurut Freese Gibson dalam Nasution 2011, menjelaskan bahwa usia juga merupakan faktor penting terjadinya stress.

Syofia, 2009 menjelaskan bahwa Sumber-sumber stres dapat digolongkan dalam bentuk-bentuk:

1) Krisis
     Perubahan atau peristiwa yang timbul mendadak dan menggoncangkan keseimbangan seseorang diluar jangkauan penyesuaian sehari-hari dapat merangsang stresor. Misalnya krisis dibidang usaha, hubungan keluarga dan sebagainya.

2) Frustasi
     Kegagalan dalam usaha pemuasan kebutuhan-kebutuhan atau dorongan naluri, sehingga timbul kekecewaan. Frustasi timbul bila niat atau usaha seseorang terhalang oleh rintangan- rintangan yang menghambat kemajuan suatu cita-cita baik yang berasal dari dalam diri sendiri atau dari luar.

3) Konflik
     Pertentangan antara dua keinginan atau dorongan yaitu antara kekuatan dorongan naluri dan kekuatan yang mengendalikan dorongan-dorongan naluri tersebut.

4) Tekanan
     Stres dapat ditimbulkan oleh tekanan yang berhubungan dengan tanggung jawab yang besar yang harus ditanggung seseorang.

Referensi :

Nasution, Hilmayani. (2011). Gambaran coping stress pada wanita madya dalam menghadapi pramenopause. (Skripsi). Sumatera : Universitas Sumatera Utara

Syofia, Erni. (2009). Faktor-Faktor yang menyebabkan stres pada mahasiswa fakultas keperawatan USU yang sedang menyelesaikan Skripsi. (Skripsi). Sumatera: Universitas Sumatera Utara

Minggu, 15 Mei 2016

Profil Pembicara SEMINAR NASIONAL PSIKOLOGI ISLAM : Dr. Bagus Riyono


Bagus Riyono
Associate Professor

Education Background
1. Master, Psychology, Hofstra University, United States, - May 1999, Thesis :
2.Undergraduate, Psychology, Gadjah Mada University, Indonesia, - July 1991, Thesis :

Research Interest
1. Industrial and Organizational Psychology
2. Motivation
3. Islamic Psychology

Research Cluster/Group Work Experience
1. Chief of Information System Unit, January 2004 - December 2006, Faculty of Psychology, Gadjah Mada University, Yogyakarta, INDONESIA

2. Chief Editor of Jurnal Psikologi, January 2004 - Present, Faculty of Psychology, Gadjah Mada University, Yogyakarta, INDONESIA

3. Consultant at Career Development Centre, November 2003 - Present, Gadjah Mada University, Yogyakarta, INDONESIA

4. Post Graduate Fellow, June 1999 - March 2000, Hofstra University, Hempstead, NEW YORK

5. Faculty member, March 1995 - June 1997, Gadjah Mada University, Yogyakarta, INDONESIA

6. Policy Analyst, September 1993 - February 1995, Conoco Indonesia Inc. , Jakarta, INDONESIA

7. Manpower Planning, Career Dev. & Recruitment Supv, July 1992 - September 1993, Conoco Indonesia Inc. , Jakarta, INDONESIA

8. Management Analyst, September 1991 - June 1992, PT. Astra International, Jakarta, INDONESIA

Course Subject
Training and Development, 3 credits, Undergraduate
Articles
1. Riyono, Bagus, The Unifying Theory of Motivation, Buletin Psikologi vol 13 no.1, June 1st 2005

Selected Publication
1. Subandi, Riyono, Bagus, and Himam, Fathul , in search of Anchors The Fundamental Motivational Force in Compensating for Human Vulnerability, Gadjah Mada International Journal of Business, vol. 14/3, pp. 229-253, 2012

2. Riyono, Bagus, Intrinsic Motivation dan Performance: Studi Meta Analisis., Psikologika: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi, vol. Vol.13, No, pp. 5―14, 2008

3. Riyono, Bagus, Konsep Dasar dalam Mendesain Organisasi [The Principles of Organizational Design], Buletin Psikologi Juni 2006, ., vol. Volume 14,, pp. 43―56, 2006

4. Riyono, Bagus, Fuad H. N., The Creative Process of Indonesian Muslim Writers: An Islamic Psychology Perspective, International Conference on Muslim and Islam in the 21st Century: Image
and reality, International Conference on Muslim and Islam, Kuala Lumpur, Malaysia , August 4th 2004

5. Riyono, Bagus, Himam, Fathul , and Sumaryono, Pendekatan Grunded Theory untuk Memahami Strategi Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta dalam Menghadapi Era Otonomisasi Daerah dan Globalisasi, Jurnal SIASAT BISNIS , vol. no. 9 vol., pp. 1-14, 2004

6. Riyono, Bagus, Retno S., Perbedaan Aspirasi karir antara Wanita yang Sudah Menikah dan yang Belum pada Pegawai Negeri Sipil, Jurnal Psikologika Fak. Psikologi UII, vol. no.16 thn , 2003

7. Riyono, Bagus, Pengembangan Alat untuk Mengukur Potensi Kualitas Kepemimpinan, -, vol. -, pp. -,1997


 

Copyright © Ahlan Wa Sahlan™ is a registered trademark.
Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.